Mata Publik, Tajam, dan Terpercaya
Wartawan Swara Konsumen Indonesia Dilengkapi Dengan KTA Yang Masih Berlaku Dan Surat Tugas Peliputan, Nama Tercantum Didalam Box Redaksi
IMG-20181201-WA0004

SKI – Jakarta – Momentum pesta demokrasi selalu menjadi ajang rekonstruksi tatanan birokrasi untuk satu periode selanjutnya. Tahun depan, rakyat Indonesia akan menghadapi pemilu legislatif dan pemilu presiden secara serempak untuk pertama kalinya. Kita semua berharap, hajatan demokrasi ini bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Rakyat sebagai pelaku utama dan penentu siapa yang berhak menempati kursi kepemimpinan, mendapat tanggung jawab yang sangat besar dalam rangka pembangunan selanjutnya. Hal tersebut menuntutnya untuk berfikir lebih dewasa, cerdas, dan terbuka. Alhasil, tidak terjadi kekeliruan dalam memilih seorang pemimpin. Artinya, Pemilu bukan sekadar ajang politik transaksional yang justru mengoyak hakikat demokrasi itu sendiri.

Itu sebabnya perlu pendidikan politik yang berkalanjutan dalam rangka untuk menyiapkan rakyat yang cerdas dan pemimpin berkualitas serta berdedikasi tinggi kepada nusa dan bangsa.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Farouk Abdullah Alwyni mengajak semua pihak, terutama partai-partai politik peserta Pemilu 2019 untuk menjalankan agenda pendidikan dan menumbuhkan budaya politik yang benar kepada rakyat. “Perlu adanya pendidikan politik dari partai-partai kepada masyarakat, supaya masyarakat peduli dengan pemilu untuk legislatif maupun eksekutif yang berkualitas,” katanya dalam bincang-bincang bersama Reporter di sebuah Kafe Cikini, di Jakarta, Jumat Sore, (30/11/18).

Menurut Farouk, masyarakat jangan dimanjakan dengan politik transaksional, tapi lebih baik dengan pendidikan politik terkait apa yang akan diperjuangkan oleh partai-partai peserta Pemilu. Jika hal itu dilakukan maka setidaknya akan menghentikan budaya politik transaksional dan hasil politik kita akan lebih berkualitas. “Jadi tidak hanya dinikmati oleh para elite politik,” papar alumnus New York University & the University of Birmingham ini.

Sekadar gambaran, merujuk survei Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkait pemetaan politik, sosial, budaya, ekonomi dan keamanan menjelang Pemilu 2019, hanya 41% masyarakat yang tertarik mengikuti berita politik atau pemerintahan. Kemudian, hanya 18% masyarakat yang rutin berdiskusi mengenai politik atau pemerintahan secara umum. Dari hasil riset, pejabat pemerintah adalah yang paling banyak dirujuk oleh publik untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat dengan porsi sekitar 30%. Sedangkan media massa arus utamanya hanya 14%.

Mengenai politik transaksional ini, Farouk bilang bukan sekadar isapan jempol tapi mengalaminya sendiri. Kala itu, ada seseorang yang mendekatinya dan menyatakan bersedia menjadi tim sukses dengan menjanjikan perolehan suara dari calon pemilih di daerah pemilihannya. Mereka meminta biaya sekitar Rp 4 miliar sebagai tiket untuk lolos ke Senanyan. “Tentu saya menolaknya, karena terkesan seperti jual beli suara, semacam politik transaksional antara caleg dengan operator dari para pemilih,” tukasnya.

Menurut dia, biaya yang harus dikeluarkan tersebut tidak sebanding dengan gaji anggota dewan. Maka dari itu, tidak terelakkan jika caleg yang terpilih melakukan politik transaksional tersebut. Pendek kata, ketika duduk sebagai wakil rakyat yang pertama terbesit di benaknya adalah bagaimana bisa mengembalikan modal ketika kampanye. Boleh jadi mungkin lebih dari sekedar balik modal, tetapi meraup keuntungan pribadi semaksimum mungkin. “Inilah politik transaksional yang berujung kepada buruknya produk demokrasi kita,” sebut Farouk.

Ekonom dari Center for Islamic Studies in Finance, Economics and Development (CISFED) ini menilai, demokrasi Indonesia pasca-reformasi belum melahirkan demokrasi yang substantif, yakni demokrasi yang berdampak terhadap terciptanya layanan publik dengan baik. Di negara maju, kelancaran proses demokrasi bisa terlihat dari efeknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Demokrasi perlu dibedakan dengan pemilu. Demokrasi yang substantif bukan aksesoris, harus diterjemahkan pada pelayanan publik yang baik, berfungsinya sistim penegakan hukum dan keadilan. Ini yang perlu dikritisi dalam perjalanan demokrasi kita saat ini. Demokrasi, akhirnya, harus berujung pada perbaikan layanan publik, terciptanya demokrasi ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Caleg DPR RI dari PKS untuk Dapil DKI II (Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Luar Negeri) ini.

Farouk yang juga sedang menjalani studi doktoralnya (PhD) terkait pembangunan Indonesia di Univesiti Sains Malaysia, Penang mengungkapkan, sejak Orde Baru dan setelah krisis keuangan 1998, Indonesia selalu mencatatkan pertumbuhan ekonomi meski belum begitu signifikan ketimbang China. Tetapi persoalan seriusnya adalah pertumbuhan ekonomi ini hanya dinikmati sejumlah kecil masyarakat. “Pertumbuhan ekonomi belum bisa dinikmati secara merata,” katanya sambil menyeruput nikmatnya Capucino.

Berdasarkan kajian Bank Dunia 2016, selama satu dekade sampai dengan tahun 2015, yang menikmati pertumbuhan ekonomi hanya 20% dari populasi penduduk Indonesia. Kajian lainnya, Credit Suisse 2016, menyatakan Indonesia adalah negara terburuk keempat dalam hal ketimpangan ekonomi.

Selain itu, lembaga internasional OXFAM juga dalam laporannya pada tahun 2016, menyebutkan total harta empat orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar US$25 miliar setara dengan gabungan kekayaan sekitar 100 juta orang atau 40% dari total penghasilan masyarakat terbawah.

Menurut laporan yang sama, pada 2016, satu persen orang terkaya menguasai 49% atau hampir setengahnya dari total kekayaan di tanah air. Tak ayal, perjalanan demokrasi Indonesia masih panjang dan 20 tahun reformasi tidak bisa membuat kita berpuas diri. Yang terang, perlu perubahan yang lebih signifikan dan harus dilakukan berkesinambungan agar pertumbuhan ekonomi berdampak bagi seluruh masyarakat.

“Tidak hanya sekelompok kecil masyarakat. Ini semua patut direnungkan agar kita mempunyai negara yang bermanfaat untuk semua,” harap Dosen di Perbanas Institute & MM FE Universitas Indonesia ini.

Penulis : Fri

Editor    : Red SKI

Baja Juga

One thought on “Cegah Politik Transaksional Dengan Edukasi Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Badar : Mari Warga Keturunan Luwu Bersatu Perjuangkan Provinsi Luwu Raya

Wed, 23 Jan 2019 09:13:23pm

SKI, Jakarta - Momen peringatan hari jadi Luwu' (tana luwu) dan peringatan hari perlawanan rakyat Luwu 23 Januari 2019 dapat dijadikan komitmen...

Nugroho Prasetyo Memimpin Kembali Sebagai Ketua Umum DPP Partai Rakyat

Wed, 23 Jan 2019 09:09:17pm

SKI, Jakarta - Partai Rakyat yang didirikan Tahun 2015 awalnya Ketua Umum adalah Nugroho Prasetyo, kemudian di tahun 2017 Nugroho Prasetyo...

Kades Karleko Didemo Warganya

Wed, 23 Jan 2019 08:22:12pm

SKI, Lotim - Puluhan  warga Desa Karleko melakukan aksi ke kantor Desa Karleko,Rabu (23|1). Dengan menuntut dan meminta pertanggungjawaban Kades...

Pengangkutan Pasir Laut Ke Luar Diduga Tak Berijin ‎

Wed, 23 Jan 2019 08:15:07pm

SKI, Lotim - Pengangkutan pasir laut ke luar daerah dari pelabuhan bongkar muat barang Labuhan Lombok diduga ilegal dan diindikasi tidak memiliki...

KSPI, KSBSI, SPSI,ILO (SCORE) dan Pro Ade Yasin lakukan Lokakarya Produktivitas

Wed, 23 Jan 2019 06:35:06pm

SKI, Bogor - Gabungan serikat buruh konfederasi yg di wakilkan Bapak Edo serta ketua serikat buruh kerja tambang dan kulit Bp. Helmi adakan lokakarya...

Sadis, Ibu Kandung Gorok Leher Anaknya Dengan Parang Sampai Tewas

Wed, 23 Jan 2019 06:28:15pm

SKI, Lotim - Keji dan biadab Seorang ibu kandung,HR (36) warga Dusun Tunjang Utara,Desa Paok Motong Kecamatan Masbagik‎ tega membunuh anak...

Bangunan Dreanase Desa Tanjung Riang Diduga Tidak Sesuai Sfak Gambar

Wed, 23 Jan 2019 06:08:38pm

SKI, Lampung utara - Salah satu aitem kegiatan yang ada di desa tanjung riang dusun 3, tahun anggaran dana desa(DD) 2018. Dikerjakan oleh kepala desa...

Dandim 1607/Sumbawa : TNI -Polri Bersama Masyarakat Akan Bekerja Membantu Percepatan Rehab Rekon Pasca Gempa

Wed, 23 Jan 2019 01:48:51pm

SKI, Sumbawa Besar - Tim penanganan gempa NTB sudah melakukan rekrutmen tenaga fasilitator yang melibatkan TNI dan Polri dalam memudahkan pelaksanaan...

Komitmen Hadirkan Banyak Industri, Gubernur : Anak NTB Tidak Boleh Menjadi Penonton

Wed, 23 Jan 2019 01:44:52pm

SKI, Sumbawa - Komitmen Gubernur NTB untuk menghadirkan banyak industri di NTB disampaikan Gubernur Zul saat melakukan kunjungan Kerja ke Kabupaten...

Babinsa Gerak Cepat Sukseskan Opster TNI Bersama Instansi Terkait

Wed, 23 Jan 2019 01:39:11pm

SKI, Mataram - Pasca dibukanya Operasi Teritorial (Opster) TNI tahun 2019 oleh Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc., minggu lalu, para...

Berita Terbaru

NUSAN

Kades Karleko Didemo Warganya

Wed, 23 Jan 2019 08:22:12pm

EKONOMI

Sandiaga Uno : Sudah Saatnya Jihad Ekonomi

Sat, 19 Jan 2019 10:46:10pm
37b5862c-5335-427c-8307-49a3e2374ca6

PERISTIWA

%d bloggers like this: