728 x 90
Mata Publik, Tajam, dan Terpercaya
Wartawan Swara Konsumen Indonesia Dilengkapi Dengan KTA Yang Masih Berlaku Dan Surat Tugas Peliputan, Nama Tercantum Didalam Box Redaksi
IMG-20190511-WA0008

SKI, JAKARTA – Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, mantan Aster Kepala Staf TNI-AD mengemukakan keprihatinannya, ada sebagian sebagian elit negeri ini menempatkan Pemilu seperti perang, seolah sah menggunakan segala cara, demi tercapainya tujuan.

Bahkan, ketika melihat kenyataan bahwa kekalahan sudah di depan mata, sebagian elit ini langsung menuduh bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara Pemilu telah melakukan kecurangan yang Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM). Target mereka, dengan menuduh KPU berbuat Curang secara TSM adalah untuk menciptakan situasi chaos.

Dan layaknya kaum anarki, diantara mereka tak terkecuali yang berlatar belakang mantan elit TNI / Polri tidak peduli akibat yang bisa ditimbulkannya.

“Padahal mereka tahu persis bahwa bila cara yang ditempuhnya ‘kebablasan’ resikonya bisa berakibat fatal bagi kemanusiaan dan bahkan eksistensi bangsa dan negara,” ujar Saurip Kadi kepada wartawan, di Jakarta, hari ini.

Dia pun mengingatkan, pesan Bung Karno pada HUT kemerdekaan RI ke 21 tanggal 17 – Agustus – 1966 tentang JASMERAH (JAngan Sekali-kali MEninggalkan sejaRAH). Untuk masa kekinian, hal itu perlu untuk disegarkan kembali dari ingatan publik, terlebih untuk elit-nya.

Saurip Kadi juga melihat ada kondisi aneh yang berkembang pada Pemilu 2019 yaitu terjadinya sinergi antara sejumlah tokoh yang beda aliran, paham, ideologi dan bahkan habitat mereka bertentangan satu dengan lainnya dalam satu wadah perjuangan.

Dalam wadah perjuangan tersebut, sejumlah mantan elit TNI/Polri yang notabene sebagai Benteng Pancasila bisa bersatu padu bahu membahu dengan mereka yang sedang berjuang justru hendak mengganti dasar negara Pancasila.

“Dapat dipastikan, bahwa persekutuan mereka terjadi karena adanya kesamaan karakter dan kepentingan, ibarat ‘tumbu ketemu tutup’,” ungkapnya.

Persoalan menjadi sangat memprihatinkan, ketika Capres 02 dalam hitungan waktu hanya beberapa jam setelah pencoblosan usai, kemudian mendeklarasikan kemenangan yang disertai sujud syukur segala. Dan paska sujud syukur yang ketiga, sejumlah tokoh pendukungnya ramai-ramai mengajak rakyat melalukan “people power” dengan alasan kecurangan Pemilu. Dan belakangan tepatnya pada tanggal 1 Mei 2019 sejumlah ulama melakukan Ijtima-III yang isinya antara lain menuding adanya kecurangan TSM dalam Pemilu dan meminta Bawaslu mendiskwalifikasi Paslon 01.

Dikatakan Saurip, untuk kepentingan Pemilu 2019, DPR RI yang anggotanya juga mewakili Partai masing-masing bersama Pemerintah telah menerbitkan UU Nomor: 7. Tahun 2017 Tentang Pemilu. DPRRI pulalah yang memilih komisioner KPU. Sementara itu, aturan main yang sifatnya tehnis yang dibuat KPU juga telah terkonfirmasi oleh DPR dan Pemerintah selaku lembaga pembentuk UU. Adapun pelaksanaan Pencoblosan, TPS digelar sesuai wilayah RT/RW dan kepanityaan dimasing-masing TPS juga diawaki oleh penduduk setempat. Dan di tiap TPS, masing-masing Peserta Pemilu juga menempatkan Saksi yang ikut menandatangani dokumen C-1 tentang Rekap Penghitungan Suara di TPS.

Begitu pula untuk penghitung perolehan suara di tingkat nasional oleh KPU, diatur secara berjenjang dengan pleno dimasing-masing jenjang, bahkan dengan durasi 35 hari juga atas kesepakatan para pembentuk UU.

Sedang dukungan IT yang digunakan juga digelar secara terbuka untuk umum, sehingga publik bisa mengakses langsung untuk mengkonfirmasi validitas perolehan suara di TPS dan dibarengi dengan hak untuk klaim perubahan data.

Ditambahkan, memang mustahil KPU dapat memberi jaminan bahwa seluruh petugasnya dari pusat sampai dengan TPS tidak melakukan kecurangan. Namun bila ternyata terjadi kecurangan, dipastikan sebagai kasus. Karena dengan pengorganisasian dan mekanisme kerja yang ada, KPU tidak mungkin bisa melakukan kecurangan secara TSM (Terstruktur, Sistemik dan Masif) sebagaimana yang dituduhkan sejumlah pihak belakangan ini.

“Persoalan yang mendasar, karena tuduhan KPU curang tidak dibarengi bukti pendukung yang valid. Begitu pula dalam hal penghitungan perolehan suara internal yang mereka lakukan juga tanpa pernah membuka hasil penghitungan untuk umum. Lantas bagaimana mungkin rakyat dengan akal sehat serta nuraninya bisa percaya atas kebenaran tuduhan dan hasil penghitungan perolehan suara yang mereka umumkan,” pungkasnya.

Namun, tambah Saurip Kadi yang dikenal sebagai jenderal yang kritis ini, ditilik dari tokoh yang tampil di permukaan, dipastikan mereka hanyalah “wayang” yang sedang dimainkan oleh sang Dalang yang merangkap Operator.

“Maka pertanyaan yang harus dijawab oleh kita bersama adalah ‘Siapa Pemangku Hajat Yang Berkepentingan Menanggap Wayang’,” katanya.

Dan sebetulnya untuk mengetahui siapa penanggap wayang yang sesungguhnya, menurut Saurip Kadi, bukanlah pekerjaan yang sulit sulit amat.

“Dengan meminjam istilah Capres-02, mereka adalah pihak-pihak bermasalah yang selama ini memperkosa Ibu Pertiwi sehingga takut terhadap bayang-bayang dirinya sendiri,” tandasnya.

Dan bagi mereka, kemenangan Paslon-01 adalah saat datangnya “skaratul maut”.
Sebagian dari mereka begitu serius, karena mengira bahwa untuk lepas dari “kematian” hanya ada satu cara yaitu ketika Pemilu 2019 gagal, sehingga muncul kesempatan untuk menampilkan tokoh dari lingkungan mereka sendiri sebagai penyelamat keadaan layaknya seorang pahlawan.

“Dan target minimal yang mereka kerjakan tak lebih hanya untuk membuat posisi tawar dengan harapan Pak JKW mau bagi-bagi kekuasaan dalam pemerintahan mendatang,” ungkapnya.

Di sisi lain, untuk membatalkan rencana digelarnya “pertunjukan wayang”, sesungguhnya juga pekerjaan yang sangat mudah. Karena jejak kejahatan yang mereka buat sudah lama diketahui publik. Dan untuk melumpuhkan penjahat, seorang Polisi tidak perlu menembak kepala penjahat, tapi cukup dengan menembak kaki bagian bawah seperti jari kelingking sekalipun.

Sedang pemantik yang bisa menyulut terjadinya kerusuhan sosial atau kondisi chaos dalam waktu dekat adalah bentrokan antar massa pendukung Paslon pada saat pengumuman Perolehan Suara oleh KPU tanggal 22 Mei 2019 mendatang.

“Untuk itu seruan pengerahan massa pendukung dari salah satu Paslon tidak perlu diimbangi oleh pendukung Paslon lainnya. Sing Waras Ngalah, begitu pesan leluhur kita dari Jawa,” katanya.

Diingatkannya pula, bahwa sejarah mencatat, dalam kaitan bernegara dimasa lalu, berulang kali sesama anak bangsa kita saling bunuh membunuh. Sudah barang tentu, dibarengi jatuhnya korban dengan jumlah yang tidak kecil. Belum lagi dampak ikutan berupa kehidupan sosial yang memprihatinkan yang diderita puluhan juta keturunan para korban. Pengalaman tersebut semestinya dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua, agar kedepan tidak terulang kembali. Apalagi kalau kita mau menggali apa sebenarnya yang diperebutkan oleh para pendahulu kita yang membuat mereka saling membunuh. Bukankah bangsa ini telah menjadi korban dari perebutan pengaruh kepentingan pihak-pihak tertentu, termasuk yang diatas-namakan persaingan ideologi yang tergelar saat itu.

“Bukankah semestinya elit negeri ini berkomitmen kuat untuk bersama-sama membangun demokrasi melanjutkan hasil reformasi, karena hanya dengan demokrasi kita dapat menihilkan atau setidaknya meminimalkan penistaan dan atau pendholiman kemanusiaan oleh sesama anak bangsa,” ujarnya. (Red SKI) 

Baja Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Pangdam dan Kapolda Pimpin Apel Kebangsaan Se-Solo Raya

Tue, 21 May 2019 10:32:35pm

SKI, SOLO - Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi dan Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel memimpin apel kebangsaan memperingati...

Korem 071/Wijayakusuma Berbagi Takjil Gratis untuk Masyarakat

Tue, 21 May 2019 10:26:18pm

SKI, Banyumas - Korem 071/Wijayakusuma berbagi Takjil gratis untuk Masyarakat. Semoga Meraih Kemenangan pada Idul Fitri 1436 H. Demikian sepenggal...

Personil Polres Bogor Diturunkan Untuk Melakukan Penyekatan Di Beberapa Titik

Tue, 21 May 2019 06:26:28pm

SKI, Bogor - Personil Polres Bogor diturunkan untuk melakukan penyekatan di beberapa titik yang ada di Wilayah Kabupaten Bogor. Selasa...

Menebarkan Semangat Kebaikan Melalui Kegiatan Donasi Setiap Pembelian Cadbury Untuk Buka Puasa

Tue, 21 May 2019 06:03:46pm

SKI, Jakarta - Cadbury brand coklat ternama sekaligus produk unggulan Mondelez Internasional mengadakan kegiatan ' Berbagi dari Hati di Bulan Suci'....

TNI POLRI KAB BOGOR SIAGAKAN 3000 PERSONIL GABUNGAN MENGHADAPI PENGUMUMAN HASIL REKAPITULASI PEMILU 2019 DI KPU RI

Tue, 21 May 2019 05:31:18pm

SKI, Bogor - Dalam rangka pengamanan pengumuman hasil rekapitulasi Pemilu 2019 di KPU RI Jakarta maka Polres Bogor gabungan dengan Kodim 0621...

Jelang Pengumuman Rekapitulasi Pemilu, Polres Bogor Bersama Kodim 0621 Laksanakan Patroli Gabungan

Tue, 21 May 2019 04:55:13pm

SKI, Bogor - Polres Bogor bersama Kodim 0621/Kab. Bogor melaksanakan Patroli gabungan di wilayah hukum Kabupaten Bogor. Senin (20/05/19) Jam 21.00 -...

Warga Kampung Deret Antusias Sambut Presiden Baru

Tue, 21 May 2019 04:46:09pm

SKI, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi Kampung Deret, di Jalan Tanah Tinggi I, Johar Baru, Jakarta Pusat. Jokowi bersama calon...

BNN Ungkap Tujuh Kasus Narkotika Dalam Kurun Waktu Satu Bulan

Tue, 21 May 2019 04:37:53pm

SKI, Jakarta - Dalam kurun waktu satu bulan Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengamankan 639 kg ganja, ± 252,4 kg sabu, 73.029 butir pil...

Dibulan Suci Ramadhan Polsek Johar Baru Memberikan Sedekah 

Tue, 21 May 2019 04:24:53pm

SKI, Jakarta - Agama mengajarkan kita semua untuk selalu bersedekah, dengan tujuan membantu sesama, mensucikan harta dan bekal pahala di akhirat...

Danrem 071/Wijayakusuma Buka Latihan Posko I Kodim 0713/Brebes

Tue, 21 May 2019 03:05:11pm

SKI, Brebes - Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Kav Dani Wardhana, S.Sos., M.M., M.Han., membuka Latihan Posko I Kodim 0713/Brebes, di Makodim...

Berita Terbaru

NUSAN

EKONOMI

PERISTIWA

%d bloggers like this: