oleh

Keluarga Ida Sulfiana Tagih Janji Bupati Loteng

SKI| Lombok Tengah – Salah satu calon penerima beasiswa kedokteran dari Yayasan Yatim Tersenyum Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah Ida Sulfiana menangis bahkan mengurung diri di Pondok lantaran dinyatakan tidak lulus di Perguruan tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bibi Ida yakni Rohani, dikatakan bahwa kondisi dari keponakannya tersebut setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lulus merasa sangat sedih dan tidak mau pulang.

“Kondisinya masih sedih dan tidak pernah pulang semenjak pengumuman itu,” katanya saat ditemui di rumahnya Jumat (1|9).

Ia juga menuturkan bahwa, berdasarkan pemberitahuan dari pengurunya, Ida Sulfiana Calon Penerima Beasiswa asal Desa Jago itu mendapatkan nilai bagus.

“Kita tidak tahu ya soal nilainya itu karena belum lihat, tapi dikasih tahu sama salah satu pengurus nya nilai nya itu bagus di Tes Unram,” jelasnya.

Iapun berharap kepada pemerintah daerah agar ponaan nya tersebut dapat diperhatikan dan mendapatkan prioritas seperti yang dikatakan oleh Bupati Loteng Lalu Pathul saat melakukan kunjungan ke rumahnya.

“Dulu waktu kunjungan kesini, beliau (Bupati,red) akan memprioritaskan Ida agar lulus kedokteran,” tuturnya.

Namun, ungkapan bupati tersebut hanyalah bualan semata, dikarenakan ponaan nya yang sudah hatam 30 Juz Al-Qur’an nyatanya tidak diluluskan.

“Untuk apa kemarin gembar-gembor Ida akan lulus, kita takutnya nanti ada cibiran-cibiran dari masyarakat soal itu,”.

“Bahkan sekarang saja sudah ramai di media sosial dikenakan ditahu bahwa Ida tidak lulus,” lanjutnya.

Sementara itu,Sekertaris Yayasan Yatim Tersenyum Samsul Rijal saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa, berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh pihak Yayasan, proses yang dilalui dari mulai dari perekrutan yakni ada proses seleksi Administrasi, Seleksi Kompetensi dan hafalan, kemudian setelah itu baru dinyatakan lulus.

“Administrasi tersebut salah satunya yakni berkaitan dengan jurusan akademik dan disana kita dinyatakan lulus untuk menjadi persyaratan akademik masuk kedokteran,” tuturnya.

Selain itu juga ada uji kompetensi hafalan 30 juz serta melakukan kunjungan atau Visiting untuk melihat perekonomian para peserta penerima beasiswa.

“Dari sana kita nyatakan sebanyak 19 orang lulus,” terangnya.

Setelah dinyatakan lolos dari Pihak Yayasan, barulah dilakukan kerja sama dengan salah satu lembaga untuk melakukan bimbel.

Kemudian, Lanjut Rijal, setelah itu dilakukan tes masuk kedokteran di perguruan tinggi Unram oleh 10 orang peserta dan dinyatakan lulus sebanyak 5 orang.

“Sisanya yang 5 itu kemudian di tes di Unizar dan dinyatakan Lulus Passing grade sebanyak 3 orang,”.

Sehingga dari 10 orang tersebut hanya 8 yang lulus kedokteran dan sisanya 2 orang tersebut tidak lulus.

Kemudian untuk mengantisipasi itu, Pihak Yayasan dan Pemda melakukan komunikasi dengan Universitas Nahdatul Ulama di Mataram untuk dimasukkan bagi yang tidak lulus kedokteran untuk mengambil Jurusan Kesehatan lainnya.

“Disana kan ada Jurusan Gizi, Farmasi dan Kesehatan,” jelasnya.

Sesuai dengan perencanaan awal, selain Pemda mencetak Dokter juga mencetak tenaga kesehatan yang lainnya seperti Perawat dan lainnya (Riki).