oleh

Milangkala Kadua PSL, Kang Oting Sharaga Art Tampil Bersama Seni Tarawangsa

 

SKI|Banten-Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah “Tarawangsa” sendiri memiliki dua pengertian: 1. Alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan 2. nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Tarawangsa lebih tua keberadaannya daripada rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut nama tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15 sampai abad 16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India.

Pada acara milangkala kadua Paguyuban Sumedang Larang (PSL) bertempat di Gedung Apresiasi Kawasan Pusat Pemeritahan Provinsi Banten (KP3B) Serang Banten, seni tarawangsa dihadirkan selain dengan maksud untuk menghibur tetapi lebih dari itu untuk mempertahankan seni tradisi agar tetap terjaga keberadaanya, Sabtu (29/01/’22).

“Kami Grup Seni Tarawangsa yang berasal dari Kabupaten Bogor turut memeriahkan acara milangkala kadua PSL Banten hari ini, grup seni tarawangsa kami yang tampil hari ini bernama grup KARASA yaitu kependekan dari kata karinding tarawangsa yang memang selain alat musik tarawangsa ada juga alat musik karinding (alat musik bambu yang ditepuk jari-red.) didalamnya sebagai instrumen tambahan,” ujar kang Oting salah satu seniman kreasi yang turut bergabung juga dalam grup seni tarawangsa.

“Adapun grup KARASA yang kami tampilkan hari ini dimainkan oleh 5 personil yaitu: Abah Tateng (penari & pembaca rajah), Deni (tarawangsa), Aban (kecapi jentreng), Oting Sharaga (karinding1) dan Oji (karinding 2),” lanjut Oting.

Abah Tateng selaku pupuhu (pimpinan-red) seni tarawangsa KARASA pada kesempatan yang sama menyampaikan harapannya.

“Dengan adanya pertunjukan seni tarawangsa ini, saya selaku pupuhu grup KARASA berharap semoga kesenian-kesenian “buhun” seperti tarawangsa dan karinding bisa tetap terjaga keberadaannya sehingga dapat diminati oleh kalangan anak muda dan sekaligus melestarikannya,” harapnya. (UT)