oleh

Tasyakuran Pengangkatan Calon Polisi Di Malam Buka Aura

SKI, Jakarta – Jumlah tamu yang datang ke padepokan Abah Anom semalam cukup banyak, memadati beberapa ruang yang ada. Di teras depan samping, ada beberapa tamu yang sedang diterapi atau di sini lebih dikenal dengan istilah “dipanasin”. Di ruang Putra Arjuna Anom, 5 pemuda, 2 wanita, 2 pasutri, didampingi putera arjuna seperti Botay, Bobol, Bayu, Kamal, dan Karno, tengah sharing dengan aa Darussalam Anom di sebuah ruang khusus diperuntukan untuk tangan kanan H Abah Anom untuk menangani sebagian tamu-tamu beliau. Sementara di ruang tengah, H. Abah Anom tampak sedang berdialog dengan beberapa tamu mitra bisnis dan para sineas antara lain Koh Niko cs, Udin Berantai cs, Deswyn, M. Herman, Omy, dan beberapa talent seperti Mega, Boncel, Moy dan lainnya. Di ruang PT. FANS, tampak Nughie, Wawan pajak, Ardy, Jawa, Ali Hsb, Salim, keluarga Kevin, keluarga Agung Ramadhan, ipar aa Darus, dan teh Eli asyik berbincang. Menunggu waktu prosesi pembukaan aura pukul 21.30 WIB, sebuah rutinitas setiap malam selasa.

Bertepatan dengan malam pembukaan Aura tersebut, terselip juga agenda lain seusai prosesi, yaitu Tasyakuran Pengangkatan Calon Polisi atas nama Riko Widodo, lelaki muda kelahiran 30 Oktober 1999. Anak ke-2 dari pasangan Rusdi dan Siti Maryam yang berkulit agak gelap ini datang bersama kedua orangtuanya, seorang adik laki-laki dan kakak perempuannya yang masih kuliah jurusan kebidanan.

Rusdi, ayah dari Riko, berprofesi sebagai pedagang Bubur Ayam di Telogong, Penjaringan, Jakarta Utara dan Siti Maryam, ibunya, adalah seorang pebisnis sembako.

Materi tes penerimaan calon polisi meliputi Kesehatan, Psikotest, Jasmani, dan Akademi telah dilewatinya dengan motivasi mulianya yang ingin membahagiakan kedua orangtuanya, mendapatkan pekerjaan tetap, dan bertekad mengabdi pada negara.

Di depan tamu H Abah Anom yang lain, Riko sempat bercerita bahwa Hari Pengumuman Perangkingan Akademik adalah saat yang paling mendebarkan. Di mana Riko Widodo bersama semua rekan seangkatannya harus bangun dan datang pagi-pagi ke lokasi tes dan masih harus menunggu hasil perangkingan itu dari pagi hingga jam 14.00 WIB. Dan sesuai harapannya, pada lembar pengumuman yang dipajang petugas, ia berhasil meraih total angka perolehannya yaitu 788, dari ketentuan nilai perangkingan terendah 660 dan angka perangkingan tertinggi 891.

Foto: Abah H. Anom Saat Proses Buka Aura

Saat berlangsungnya proses bedah aura disambut antusias oleh para tamu yang rela antri panjang. Berbagai hajat dan kendala diharapkan akan dapat berangsur bahkan kontan berhasil tersingkirkan setelah terbukanya cakra dan ternetralisirnya energi negatif yang menempel atau sempat bersarang di tubuh jasadiah para tamu. Dirinya tak lagi ditunggangi kusutnya hati dan buruknya pikiran baik yang berasal dari dalam ataupun luar dirinya. Sehingga pancaran Nur Muhammad dan Nur Ilahi yang ada dalam setiap diri dari setiap tamu yang hadir, mampu lebih mendominasi dibanding sosok negatif lainnya. Apa yang dilakukan H Abah Anom dan aa Darussalam Anom bersama tim putera Arjuna Anom adalah sebuah upaya menolong semua tamu untuk melepaskan dirinya dari berbagai penyakit hati yang menjadi sumber dari segala penyakit, bala’, dan musibah.

Seperti biasanya, seusai itu H Abah Anom selalu memberikan pencerahan baru. Bahwa kesederhanaan hidup itu harus lebih diutamakan dibanding memamerkan apa yang dipunya, di tengah kebersamaan antar sesama yang hadir dengan ragam profesi dan hajat. Jadi harus bisa saling menjaga hati sesama. Seperti halnya Allah yang selalu menyapa dan menjaga cinta dan kasih sayangnya pada seluruh makhluk yang diciptanya, tanpa kecuali. Maka sebagai manusia pun harus selalu sadar bahwa kita semua itu “disayang” Allah. Dan melalui segala musibah, bencana atau penyakitlah, Allah menguji manusia, seberapa jauh dan dalamkah kesadaran akan Tahu Dirinya Manusia yang telah sengaja diciptakan dan diterjunkan di atas bumi ini. Tentunya ada tugas khusus bagi Manusia.

Nasehat yang sempat mencuri perhatian pun sempat disampaikan H Abah Anom dengan santai “Jadi Polisi itu jangan macem-macem, ya” kepada Riko yang sebentar lagi akan masuk karantina polda selama tujuh (7) bulan. Semoga dapat lulus seperti 120-an lebih Polri dan tentara dari keluarga besar Abah Anom lainnya, yang rata-rata sudah jadi Perwira.

“Abah sangat berharap, Padepokan Abah Anom dapat melahirkan kader-kader luarbiasa”, tandas H Abah Anom.

Selain itu H. Abah Anom menginginkan agar jadwal tetap pelatihan Acting yang tanpa dipungut biaya itu alias gratis untuk diaktifkan kembali, setiap hari Minggu. Yang sudah beberapa bulan ini non aktif karena mayoritas para personil disibukkan menangani tiga produksi yaitu Menjelang Senja Di Bojongkokosan, Gerbang Dari Barat, dan Syekh Siti Jenar.

“Jadi artis itu tidak harus ganteng. Tapi harus unik dan langka. Ganteng sekalian atau jelek dan aneh sekalian. Yang penting saat syuting selain berkarakter, juga harus kuat chemistry nya dengan lawan main. Makanya saat di film Menjelang Senja Di Bojongkokosan, Abah langsung minta supaya Boncel dan Mio dijadikan satu dalam peran, berpasangan. Abah yakin mereka bisa menghidupkan suasana. Dan hidup itu misteri, penuh rahasia, karena Abah bisa banyak belajar dari narasumber yang berumur 99 tahun dan 125 tahun“, jelas H Abah Anom sambil tertawa geli mengingat beberapa adegan lucu saat syuting.

Tausyiah singkat H. Abah Anom pun ditutup dengan do’a syukur yang memunajatkan intisari dari segala hajat yang hadir. Terselip juga sebuah kalimat doa yang didapat dari para narasumber yang diterapkan saat menghancurkan helm dan tank sekutu hanya dengan menggunakan ketapel dan panah.

Seusai itu, beberapa orang tampak sibuk melayani semua tamu yang duduk di depan dan kanan kiri H Abah Anom. Beberapa tampah yang berisi aneka kue syukuran mulai dibagi-bagikan, disambut dengan akrab, hangat, dan penuh ceria, cermin telah terjalinnya rasa kekeluargaan di Padepokan Abah Anom.

“Sosok H Abah Anom sangat kharismatik. Baru dua kali pertemuan, kemudian kami tindaklanjuti untuk membicarakan hajat kami biar Allah SWT meridloi hajat anak kami, ternyata gayung bersambut. Berkat arahan beliau yang sudah kami anggap sebagai orangtua kami sendiri. Jadi apa kata Abah, kami gak pernah membantah. Waktu itu ada kata-kata Abah yang bikin kami salut, kalo Abah itu yakin 99% jadi, kalau yang 1 % gagal, itu cuma karena sakit”, ujar Rusdi ayah dari Riko Widodo dengan nada penuh haru di depan istri dan ketiga anaknya yang manggut-manggut.

“Kalau Abah mau bantu itu tidak mau tanggung, selain do’a juga Abah punya banyak kenalan, yang selama Allah SWT mengijinkan dan berkehendak semua sangat sangat mudah terjadi”, ucap H Abah Anom. (Red SKI) 

Komentar

News Feed