Ternyata Ustad Sebagai Otak Penyelundupan Shabu 1 Kg Asal Aceh

SKI | Mataram – Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba Polda NTB dipimpin langsung oleh Direktur Narkoba, Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf berhasil mengamankan tersangka yang kerap dipanggil Ustad alias MA alias E (37) di Mataram yang diduga membantu sindikat penyeludupan shabu antar provinsi asal Aceh.

 

Helmi mengungkapkan, setelah Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba melakukan pengembangan, diungkaplah peran Ustad sebagai otak perantara atau operator di lapangan yang mengatur cara bandar bertransaksi barang haram ini.

 

“Jadi peran Ustad alias MA alias E ini adalah sebagai otak perantara atau operator di lapangan yang mengatur cara bandar bertransaksi,” ungkap Helmi kepada media, Sabtu (29/5).

 

Ustad ditangkap pada sore di hari yang sama pada Jumat (28/5), setelah penangkapan 3 orang pelaku sebelumnya, yakni EDL (32) asal Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, YZ (23) dan IZ (22) yang keduanya berasal dari Kabupaten Sumbawa, NTB, di sebuah penginapan di kawasan Batu Layar, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat pada pagi harinya.

 

Pada pemberitaan sebelumnya, hasil penggeledahan saat itu, petugas menemukan 5 bungkus besar yang berisikan narkotika jenis shabu dengan berat bruto 1.000 gram yang disembunyikan dalam bantal, uang tunai milik EDL sebesar  Rp. 336.000, 1 buah KTP pelaku, 1 unit Hp Vivo, 1 unit Hp Nokia, 1 unit Hp Xiomi Note 8, 1 unit Hp Samsung A20 S, uang tunai milik IZ Rp 15 juta dan milik YZ sebesar Rp. 200 ribu dan sejumlah tiket perjalanan bis.

 

“Hasil penggeledahan saat itu, petugas menemukan 5 bungkus besar yang berisikan narkotika jenis shabu dengan berat bruto 1.000 gram yang disembunyikan dalam bantal dan barang bukti lainnya seperti yang dilihat di sini,” papar Helmi.

 

Peran YZ di sini adalah sebagai bandar, dia mengembangkan bisnis haram ini di Kabupaten Sumbawa hingga melakukan 3 kali pemesanan dari Aceh pada orang yang sama. Dia yang memesan dan dia sendiri yang datang ke Mataram untuk mengambil barang haram tersebut, setelah EDL datang mengantar barang tersebut dengan rute Aceh – Jakarta hingga Mataram.

 

“Dia (YZ)  termasuk bandar yang cukup berani karena dia yang memesan dan dia yang menjemput langsung barang tersebut,” jelasnya.

 

Atas perbuatan keempat pelaku, maka akan dijerat  Pasal 114 ayat (2) UU RI No. 35 tahun 2009. Tentang menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara Narkotika Golongan I diancam pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun. Dan Pasal 112 ayat (2) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman melebihi, diancam pidana penjara paling singkat 4 tahun.

 

Di akhir konfrensi persnya, Direktur Narkoba meminta kepada media untuk ikut andil dalam memberi himbauan kepada masyarakat agar ikut mendukung dan membantu Direktorat Narkoba Polda NTB beserta jajarannya dalam memberantas peredaran narkoba di NTB.

 

“Ayo kita dukung dan bantu Direktorat Narkoba Polda NTB beserta Jajarannya dalam memberantas peredaran narkoba di NTB,” tutup Helmi. (Sofi)

Komentar

News Feed