oleh

DR. Ilyas: Saya Respect Kepada Kepolisian, Membebaskan 2 Orang Pengamen, Karena Tidak Cukup Bukti

SKI | Jakarta – Tiga orang Pengamen, Dian jepe, Alfian dan Seno ketiganya pengamen, di amankan kepolisian sejak hari kamis tgl 9 Desember 2021, tidak ditemukan barang bukti narkotika, namun kepolisian tetap memeriksa dengan teliti keduanya sesuai dengan Prosedur yakni 3×24 jam, para istri dari kedua pengamen tersebut meminta bantuan Dr Ilyas SH.MH ahli pidana narkotika yang memang di kenal masyarakat sangat concern akan penegakan hukum Narkotika, khususnya para pecandu dan penyalah guna narkoba.

Dengan arifnya, Beliau mendatangi Kepolisian yg menahan ke tiga pengamen tersebut dan berkoordinasi akan kebenaran dan status hukum ketiganya.

“Saya mengatakan kepada ketiga istri terperiksa tersebut bahwa Kepolisian mempunyai Hak untuk memeriksa ketiganya selama 3×24 jam, dan jika tidak terbukti pasti akan di bebaskan” jelas Dekan Fisip Unsika Karawang ini kepada media, Senin (13/12/21).

Dan benar saja karena tidak ditemukan Barang Bukti Narkotika pada keduanya yakni Dian dan Alfian akhirnya di bebaskan (12/12/21).

Menyinggung tentang Rehabilitasi bagi pecandu dan penyalahgunaan narkoba, beliau berpendapat,

“Rehabilitasi terhadap pengguna dan pecandu narkotika hanya dikenal dengan dua cara , pertama sukarela, adalah mereka yg dengan kesadarannya mendatangi tempat rehabilitasi untuk ikut program rehabilitasi, bertujuan meminimalisir dari ketagihan penggunaan narkotika, kedua rehabilitasi proses hukum, adalah mereka yg di tangkap oleh aparat penegak hukum, diadili, dan divonis rehabilitasi, sehinngga pelaksanaan rehabilitasi tersebut atas paksaan berdasarksn vonis hakim” papar sang Dosen.

Pertanyaannya bagaimana seseorang ditempatkan di tempat rehab bukan karena proses volunteer, sukarela, atau vonis hakim?
“Itu adalah masalah sebab kebijakan rehabilitasi hanya dengan dua cara tersebut, ketika di tangkap penahanannya di balai rehabilitasi dan perkaranya disidangkan, itu masih dalam koridor aturan” katanya lagi.

“Tetapi jika ditangkap oleh petugas didapati cukup bukti, ditempatkan ke balai rehab dan membayar ini juga masalah, sebab ditangkap dan tidak cukup bukti dan di lepas itu juga sesuai koridor, karena Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika memberi waktu selama 3 hari atau 3×24 jam, ini adalah jeda waktu untuk menilai apakah perkara bisa dilanjutkan, atau harus di bebaskan demi hukum” tegasnya.

Sebagai ilustrasi bahwa Dr. Ilyas, SH. MH sudah sering memberikan bantuan kepada pecandu narkoba, baik sebagai Saksi Ahli atau menjadi Konseptor dalam pembelaan bagi pecandu narkotika, dirinya pernah menjadi Kasi Rehabilitasi di BNNP Cirebon, tentunya sangat faham akan rehabilitasi dan regulasinya, meski saat ini menjadi Dosen Dan Dekan Fisip Unsika karawang, memberikan bantuan bantuan tetap di utamakannya.

Menjawab pertanyaan media atas di bebaskannya dua orang terduga penyalahguna narkoba beberapa hari lalu, beliau menjawab.

“Intinya saya respect kepada petugas kepolisian, terduga ditangkap, karena tidak cukup bukti, dibebaskan kembali” terangnya

“Daripada di lepas di kirim ke balai rehab dan *_bayar_* , sebab TIDAK cukup dasar untuk melakukan hal tersebut, kecuali ditetapkan dahulu sebagai tersangka dan di tahan dibalai rehab itu ada regulasinya
” tambahnya

Sekalipun sibuk dengan urusan kampus sebagai Dosen dan Dekan Fisip di Unsika Kerawang, DR.Ilyas,SH,MH, mengaku tidak akan lelah untuk membantu pencari keadilan bagi pecandu narkoba sebab kegiatan itu juga masih dalam koridor memenuhi target Indikator kinerja utama Kampus, dan itu sebagai pengejawantahan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Apalagi Unsika di tetapkan sebagai perguruan tinggi negri percontohan dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika (P4GN) oleh BNNK KARAWANG.
“Justru harus lebih peduli dengan urusan NARKOTIKA” pungkasnya kepada para Jurnalis” (ijal-red).