oleh

Mengedepankan Non Fenal Polecy, untuk Tidak Menambah Jumlah Penyalah Guna Narkotika

SKI  | Kerawang – DR. Ilyas,SH.MH, seorang Ahli Pidana Narkotika, Dosen Pengajar yang juga Dekan Fisip di Unsika Kerawang, berbincang ringan tentang Narkoba bersama wartawan kami, Rabu (15/12) menjelang siang.

Berbincang tentang bahaya Narkotika bersama Yunizar Akbar, wartawan yg pernah tersandung urusan narkoba dan di penjara 18 bulan, meminta untuk membuat ulasan soal narkoba untuk di bagikan ke publik.

Sebagai dosen yg memiliki naluri selalu ingin berbagi ilmu dan pengetahuan

“Saya merasa tersanjung, apalagi Yunizar yg getol selalu mempublis kegiatan sy dalam soal narkoba” jelas DR. Ilyas memulai percakapan.

“Saya akan memulai dengan pernyataan, soal narkoba menjadi sulit diberantas, ada dua hal yang harus di pahami” katanya lagi

“Pertama, pemahaman tentang narkoba, gagal di pahami, kedua, narkoba dalam penanganan hukumnya masih BIAS katanya

“Dua hal mendasar tersebut yang menjadi masalah, maka jika hanya pendekatan fenal policy saja, itu dipastikan tidak akan selesai, maka diperlukan adanya pendekatan lain yakni Non final polecy, Final Polecy itu ranahnya aparat penegak hukum, mulai dari penyidikan, penuntutan, disidang dan eksekusi Vonis Hakim” paparnya.

“Sudah tentu diluar aparat penegak hukum tidak bisa memerankan Final Polecy, sebab syarat utamanya adalah penegak hukum, maka kembali ketika urusan narkoba tidak kunjung selesai atau mereda, maka Non Fenal Polecy harus diperankan, pertanyaannya apa kongkrit Fenal Non Polecy? Non Fenal Polecy adalah pendekatan penanganan tindak kejahatan yang tidak menggunakan pendekatan hukum, melainkan menggunakan kebijakan sosial yg memiliki daya preventif” kata sang Dekan ini.

“Contoh kenapa orang menggunakan narkoba ilegal?jawabnya sangat beragam, tapi dari sekian alasan dan jawabannya, ternyata sesungguhnya mereka tidak faham bahwa narkotika yg di konsumsi ilegal sama dengan mengkonsumsi racun dan mati perlahan” tegasnya lagi.

“Dulu di Belanda ada kebiasaan klo orang sakit tidak kunjung sembuh, maka orang itu akan disuntik atau diberi obat menuju kematian, namanya eutenesia, dan kebiasaan itu sudah di tinggalkan, sebab kematian akibat perbuatan manusia adalah perbuatan jahat, jadi kalai dinegri ini masih ada yang tertarik dan mau mengkonsumsi narkoba secara ilegal maka dipastikan dirinya melanggar aturan agamanya, Melanggar konstitusi dan sederetan pelanggaran lainnya’ ujarnya

“Maka untuk menghentikan nya semua harus bergerak memberikan pemahaman mengkonsumi narkotika ilegal, sama dengan bunuh diri secara perlahan, jika stigma ini masuk kesemua ruang pikiran manusia, siapa yg mau bunuh diri? dan siapa yang bisa melakukan konseling atau pencerahannya? “Jawabnya semua profesi bisa, semua orang bisa, sebab sesungguhnya mati bunuh diri menjadi musuh semua orang yang bermoral.

Saya yang sekarang berprofesi dosen sudah pasti disetiap pertemuan dengan Mahasiswa berpesan untuk tidak menggunakan narkotika ilegal, itu selalu saya lakukan. “Apalagi unsika adalah Perguruan Tinggi Negeri yang dinobatkan sebagai kampus pencontohan dalam P4GN oleh BNNK Karawang.

“Sekali lagi, Semua profesi bisa bergerak untuk memberikan konseling bahaya pengunaan narkotika ilegal, pengkonsumsi narkotika ilegal berpotensi melakukan serangkaian perbuatan melawan hukum” pungkas Dekan Fisip Unsika, DR.Ilyas,SH.MH. (Ijal).