SKI | Lotim – Menyikapi pro kontra kasus pelecehan seksual yang dialami oleh dua orang santri di salah satu Pondok Pesantren di Lombok Timur akhir-akhir, Ketua LPA Lombok Timur Judan Putrabaya angkat bicara,Senin (2/2).
Menurutnya saat ini kasus tersebut sedang dalam ditangani pihak Polda NTB,apalagi belum ada pihak yang dinyatakan sebagai terduga pelaku, penyidik Polda NTB masih focus pada pengumpulan keterangan dari berbagai pihak termasuk dari psikolog.
Oleh karena itu masyarakat diminta colling down dan menunggu perkembangan lebih lanjut.Begitu juga adapun terkait dengan ada pihak yang sudah membantah dan memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut.
” Sekali lagi tidak perlu ada pihak yang membantah maupun memberikan klarifikasi karena penyidik maupun Media tidak pernah menyebut nama terduga pelaku maupun nama Pondok Pesantren,” ujarnya
Judan juga mengatakan bahwa saat ini semua NGO peduli perempuan dan anak yang ada di NTB Focus pada pemulihan korban yang saat ini mengalami depresi berat.
Apalagi tim psikolog yang ada di Mataram terus melakukan Pendampingan dan pemulihan fsikis korban,karena pemulihan psikis korban yang tengah mengalami depresi berat ini sangat penting guna mengungkap kasus ini agar terang benderang siapa pihak yang harus dimintai pertanggungjawabannya secara hukum.
” Pulihnya kondisi korban akan memudahkan Penyidik Polda NTB dalam mengungkap kasus ini. Untuk itu biarlah kita berikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada Polda NTB untuk focus melakukan penyelidikan dan Penyidikan kasus ini sehingga pada saatnya nanti akan terang benderang posisi kasusnya,” tukasnya.
Ketua LPA Lombok Timur menaruh apresiasi yang luar biasa atas atensi berbagai elemen Masyarakat termasuk pemuda dan Mahasiswa yang ada di Lotim.Karena tentu semua itu adalah bentuk keperihatinan yang sangat mendalam yang dilami oleh berbagai elemen masyarakat atas kasus tersebut
Maka kami para NGO Pemerhati Perempuan dan Anak di Lotim merasa tidak sendirian.munculnya kecaman dari berbagai pihak di Lotim khususnya dan NTB pada umumnya.Hal ini tentu sebagai akibat kasus-kasus kekerasan seksual maupun pelecehan seksual di lembaga Pendidikan termasuk di lingkungan Pondok Pesentren akhir-akhir ini.
” Acapkali menghiasi pemberitaan diberbagai media sehingga masyarakat semakin perihatin atas kejadian yang terus berulang yang menimpa anak-anak dan perempuan di daerah ini,” keluhnya.
Judan menambahkan pihaknya tidak bosan-bosannya menekan pada Kementerian Agama Lombok Timur dan Kanwil Kemenag NTB untuk melakukan pemantauan dan pengawasan yang sungguh-sungguh secara berkala.
Begitu juga Satgas Anti Kekerasan sexual di lingkungan Pondok Pesantren yang suxah di bentuk oleh Kemenag Lotim agar di berdaya gunakan secara maksimal dan tentu di dukung dengan angaran operasional yang memadai.
” Kita tidak ingin Satgas tersebut hanya formalitas namun tidak diberdayakan secara maksimal,” tambahnya.
Selain itu lanjutnya,Pondok Pesantren adalah tempat pembentukan Caracter anak-anak Indonesia sejak dini dan itu telah terbukti mampu melahirkan Santri/Santriwati yang berakhlaqul karimah
Maka kita tidak ingin lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah Pondok Pesantren di nodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
” Menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama melahirkan generasi-generasi yang cerdas , berbudi luhur dan berakhlakul karimah,” tandas Judan. (Sul)















