Sebar Hoaks Pelecehan Seksual di Klinik Kecantikan Bekasi, Dalang Penyebar Hoaks Jadi DPO

SKI | Bekasi – Berujung Proses hukum gegara unggahan yang diduga Hoaks di medsos, perlunya kita bijak dalam bermedia sosial. Dengan adanya dugaan hoax yang di sebar di medsos yang memuat hinaan dan tuduhan adanya pelecehan seksual yang dimuat oleh Willy CH terhadap Donny DP berbuntut proses hukum.

Akibat unggahan yang tidak bertanggung jawab maka Willy dilaporkan ke Polisi dengan Nomor : LP/B/213/V/2022/SPKT/POLDA SULUT, tanggal 5 Mei 2022 dan saat ini Willy sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang yang dikeluarkan oleh Polda SULUT pada 14 maret 2023 no : DPO /3/ III/ RES.2.5./Dit Reskrimsus akibat menghilang dan menghindari proses hukum.

Diketahui, Berita bohong atau hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, atau berita palsu, maupun April Mop. Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan.

Sementara, Willy yang kesehariannya menjadi staff anggota DPRD Kota Bekasi diduga menunjukkan sikap permusuhan kepada Donny DP yang berkunjung menemui teman lama yang sudah menjadi dewan di kota Bekasi.
Merasa terlalu mencampuri urusan pribadi dan sikap yang sangat tak sopan pada pimpinannya maka Willy diberhentikan dari jabatannya.

“Sebenarnya WCH sudah beberapa kali diberhentikan dari pekerjaannya karena attitudenya yang sangat tidak baik, tapi selalu diberikan kesempatan untuk kembali bekerja setelah WCH berkali-kali meminta maaf namun kelakuannya tidak pernah berubah,” ungkap DDP.

Kebencian dan kemarahan WCH sering diungah melalui tulisan di sosial media baik Facebook, WhatsApp maupun SMS dan email yang berisikan sindiran, ancaman, hujatan, makian, tantangan berkelahi bahkan upaya penyerangan fisik kepada DDP, namun tidak pernah ditanggapi. Tuduhan kasus pelecehan seksual mulai dimunculkan oleh ke 3 orang yang mengaku korban setelah DDP kembali ke kampung halaman di Manado.

Unggahan kasus pelecehan seksual oleh Hotman Paris kepada staffnyapun di wall facebook WCH menjadi bahan olok-olok dengan komentar hujatan sambil menge-tag akun facebook DDP. Tidak sampai di situ, WCH juga melakukan teror dan penyebaran opini pribadi via inbox facebook kepada anak-anak DDP, mantan istri dan semua daftar sahabat DDP yang ada di facebook.

Merasa diperlakukan dengan semena-mena di sosial Media yang berpotensi penghinaan dan mencemarkan nama baik, maka DDP melaporkan WCH ke Polda SULUT. Setelah melalui proses analisa dari berbagai ahli bahasa, pemeriksaan Kepolisian Daerah SULUT dan kejaksaan maka dinyatakan WCH sebagai tersangka dalam melakukan tindak pelanggaran UU ITE dalam hal penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap DDP.

Sementara, upaya pelaporan dugaan kasus pelecehan seksual disalah satu klinik kecantikan di Bekasi yang dialami oleh 3 orang ART yang mengaku sebagai korban ke Polres Bekasi, yakni Kiki Ira Santy, Susana Didi (Yuli) dan Musamah (Salma) hingga saat ini belum membuahkan hasil karena tidak adanya alat bukti berupa rekaman CCTV dan tidak adanya saksi dari rekan kerja. Apalagi pelaporan kasus tersebut ke Polres Bekasi sudah lewat masa kadaluarsa, yang mana pengaduan para korban diajukan lewat dari enam bulan sejak orang tersebut mengetahui adanya kejahatan maka habislah batas waktu dan menjadi gugur atau terhapus hak untuk menuntut atau melaksanakan hukuman terhadap seseorang yang melakukan sebuah tindak kejahatan/pidana sesuai Pasal 74 Ayat 1 KUHP.

Laporan mereka yang hingga dua kalinya di Polres Bekasi sejak tanggal 22 Agustus 2022 sampai sekarang, hanya satu orang saja dari sekian banyak karyawan klinik yang dipanggil menjadi saksi. Itupun saksi justru mempertegas bahwa tidak ada kejadian di klinik kecantikan seperti cerita para korban.

“Orang yang merasa jadi Korban ini menarik saya keluar kantor lalu bercerita, sementara suasana di kantor, biasa biasa saja, saya juga tidak melihat sendiri dan tidak mendengat adanya teriakan atau keributan apapun. Saat saya ajak menemui bu dokter yang saat itu baru datang ke kantor, korban menolak,” papar karyawan R saat memberi keterangan kepada awak media di Polres Bekasi.

Semua cara ketiga orang yang mengaku mengalami pelecehan seksual di tempat berbeda ini, sama, yakni hanya berdasarkan cerita yang mereka sebarluaskan keluar.” papar DDP.

Sementara di lingkungan kerja, tak satupun rekan kerja yang melihat kejadian dan mendengar adanya keributan apapun. Bahkan tidak ada rekaman CCTV yang diambil untuk membuktikan tuduhan para wanita tersebut, tutup DDP mengakhiri wawancara.

Sumber : media indonews.com

Editor : Redaksi SKI.