oleh

Warga Perumahan BMW Bogor Tuding Developer Wanprestasi, Tuntut PT MR Hingga Milyaran

 

SKI|Bogor-Persoalan antara Developer, Bank Penjamin dan konsumen kerap terjadi hampir disetiap wilayah pemukiman perumahan, apalagi dimasa pandemi seperti ini. Baik permasalahan keterlambatan konsumen dalam membayar kewajibannya kepada pihak Bank penjamin maupun permasalahan perjanjian antara konsumen dengan developer sendiri yang tidak ditepati, terkait perjanjian administrasi maupun terkait Fasos/Fasum Prasarana, Sarana dan Utiliti (PSU).

Sebagaimana pada hari ini, Selasa (28/09/’21) perwakilan warga Sektor Alamanda Bukit Mekar Wangi (BMW) atas nama AR, MSP dan APU yang didampingi Kuasa Hukumnya HartaKa & Co Attorney at Law yang berkedudukan hukum di Ciracas Jakarta Timur tampak menyambangi Kantor Developer PT Manakib Rezeki (MR) yang berdomisili dijalan Soleh Iskandar Kayu Manis Kota Bogor Jawa Barat.

Saat ditemui awak media perwakilan warga BMW tersebut melalui Kuasa Hukumnya Ardin Firanata, S.H., M.H. menyampaikan sekilas kronologis duduk permasalahan kliennya dan tujuannya kedatangannya bersama kliennya hari ini menyambangi kantor PT MR.

“Kedatangan kami dari HartaKa & Co Attorney at Law yang diwakili saya dan bang Dudy Hartaka Adi Rasad, S.H. hari ini atas nama klien kami sesuai dengan Surat Kuasa kepada kami tertanggal 06 September 2021, klien kami menyampaikan kronologis duduk permasalahannya (terlampir). Untuk itu setelah kami mempelajarinya kurang lebih satu minggu kemudian tepatnya tanggal 13 September 2021, kami dari HartaKa & Co Attorney at Law yang berkedudukan Hukum di Ciracas Jakarta Timur menindak lanjuti pengaduan permasalahan klien kami dengan melayangkan surat Somasi dan Teguran kepada pihak PT MR selaku developer Cluster Alamanda BMW Bogor,” ungkap Ardin sembari memperlihatkan lampiran kronologisnya.

Sebelum menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran Ardin dan kliennya ke Kantor PT MR, Ardin sempat mengungkapkan kekecewaannya atas perlakuan pihak Manajemen PT MR saat dirinya datang menyampaikan Somasi pertamanya. “Terus terang kami sangat kecewa dan menyesalkan atas perlakuan pihak manajemen PT MR saat menerima kehadiran kami selaku penegak hukum yang berkapasitas selaku kuasa klien kami, hal tersebut kami menganggap PT MR telah melecehkan profesi kami sebagai Advocad sesuai UU No.18 tahun 2003 tentang Advocad,” lanjutnya.

“Kedatangan kami hari ini tentunya untuk menyampaikan somasi yang kedua sekaligus terakhir dan tanggapan atas jawaban PT MR terhadap somasi pertama kami. Kami menganggap jawaban PT MR atas somasi pertama tidak ada relevansinya dengan pertanyaan/keinginan klien kami dan hanya penyampaian progress yang sedang dilakukan PT MR, bahkan kami menilai ada “manipulasi” pernyataan yang disampaikan PT MR dalam tanggapannya yang tidak sesuai dengan Pasal 37 ayat (1) PP No.24 thn 1997 tentang Pendaftaran Tanah,” sambungnya.

“Kami menilai ada wanprestasi yang dilakukan PT MR terkait adanya keterlambatan pembangunan unit rumah sebagaimana sudah tertuang dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang disepakati saat akad kredit yang menimbulkan kerugian materi maupun non materi klien kami. Hal ini tentunya menjadi perhatian kita bersama selaku konsumen dan pemerintah daerah Kota Bogor khususnya sebagai pemangku kebijakan,” tukasnya.

“Dalam somasi kedua kami yang disampaikan hari ini, yang pertama klien kami meminta PT MR selaku developer BMW untuk segera menyerahkan AJB atau Sertifikat yang sudah menjadi hak klien kami dalam kurun waktu 3×24 jam. Kemudian yang kedua, klien kami menuntut ganti rugi atas keterlambatan pembangunan unit rumah yang diperjanjikan senilai Rp1.316.620.947,- (satu milyar tiga ratus enam belas juta enam ratus dua puluh ribu sembilan ratus empat puluh tujuh rupiah) sesuai PPJB dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kalau dalam kurun waktu 3×24 jam pihak PT MR tidak menanggapi, tentunya kami akan melakukan upaya hukum baik perdata maupun pidana,” tegasnya.

Dari pemantauan awak media dilokasi saat kehadiran warga BMW tersebut, ketika mau coba mencari keterangan/konfirmasi kepada pihak manajemen yang berkompeten PT MR terkesan menghindar. (UT)