SKI | Lotim – Puluhan aktivis pergerakan Lombok Timur yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menggugat (ALARM) Lotim menyuarakan kritikan pedas terhadap pemerintah Lotim SMART.
Pasalnya sudah enam bulan kepemimpinan Bupati Lotim H.Haerul Warisin dan Wakil Bupati H.Edwin Hadiwijaya memimpin Lotim belum ada yang menunjukkan hasil.
Namun justru yang sangat dirasakan keluhan masyarakat Lotim atas kebijakan Bupati Lotim adalah kenaikan pajak yang sangat membebani masyarakat.
Hal itu disampaikan orator ALARM dalam orasinya secara bergantian di depan kantor Bupati Lotim,Kamis (15/8).
” Lebih baik bupati jadi marbot saja dan Wabup sibuk urus konten kreator,” teriakan lantang orator aksi,Muhyidin dalam orasinya.
Para massa aksi menyebut kalau Bupati dan wakil bupati Lotim dianggap gagal menjalankan pemerintahan Lotim SMART. Pasalnya banyak kebijakan yang dikeluarkan tidak pro rakyat sebagaimana yang selalu didengungkan selama ini.
Seperti warga mengeluhkan kenaikan pajak yang mencekik,lalu penarikan retribusi MBLB kepada tambang ilegal dan kebijakan pengangkatan sejumlah pejabat di birokrasi dan BUMD yang dinilai tidak sesuai regulasi.
“;Katanya Lotim SMART tapi kebijakan yang diberlakukan tidak SMART,” kata Muhyi.
Selain itu juga menyebut oknum ajudan Bupati,dua stafsus hingga Dirut Plt PDAM Lotim yang dianggap orang yang memiliki track record kurang baik masih dipercaya Bupati Lotim untuk menduduki jabatan itu.
Belum lagi adanya dua oknum pimpinan BAZNAS Lotim yang dianggap masih mendapatkan sertifikasi dosen,sehingga menyalahi aturan yang ada.
” Kok Bupati dan Wakil Bupati masih percaya dengan orang-orang itu,karena pihaknya memiliki catatan,” tambah Muhyi.
Begitu juga halnya orator lainnya Hadi Tamara,Rully juga menyampaikan hal yang sama secara bergantian dalam orasinya mengkritik kebijakan Lotim SMART yang dianggap kurang berpihak ke masyarakat sesuai visi dan misinya.
Sementara itu dalam aksi itu yang rencana akannya diterima Kepala Bakesbangpoldagri Lotim H.Mustapa akan tapi ditolak massa aksi meski sudah berada di lokasi.Karena massa aksi minta ketemu dengan Bupati Lotim. (Sul)









