oleh

Warga Asing di Vonis 1 th 10 Bulan Penjara, Pengguna Ganja Ajukan PK

SKI | Denpasar – Daniil Valeriech WNA Rusia divonis 1 th 10 bulan penjara majelis hakim pada Pengadilan Negeri Denpasar, Bali.

Tidak terima dengan putusan tersebut, dan menempuh upaya hukum Peninjauan Kembali (PK).

Peninjauan Kembali adalah upaya hukum luar biasa yg menjadi hak terpidana atau kekuarganya manakala meyakini vonis hakim yg telah memiliki kekuatan hukum tetap atau Incraht, memiliki sejumlah keganjilan yang mengakibatkan putusan tersebut diyakini Tidak adil oleh terpidana maupun kekuarganya.

Vonis 1 th 10 bulan dalam perkara Narkoba, umumnya terdakwa memilih menerima, sebab jika berkelakuan baik terpidana bisa pulang lebih awal.

Kuasa hukum pemohon, meminta kesediaan Dr. Ilyas .SH.MH, Dosen Fakultas Hukum Unsika sebagai Ahli dalam Perkara tersebut, menyambut hangat dan menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam sidang PK tersebut, jika majelis hakim telah menetapkan jadwal untuk mendengarkan keterangan ahli.

Sidang PK yg rencananya akan mulai digelar tanggal 5 Juli 2022 di Denpasar, Bali tersebut, diharapkan setelah mendengarkan tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum sebagai termohon.
Minggu berikutnya sudah bisa menghadirkan Ahli untuk di dengar keterangannya, dari informasi pemohon dan materi vonis yg di lakukan upaya hukum PK memang cukup menarik untuk pelajaran ilmu hukum.

“Jika terdakwa sungguh sungguh di yakini melanggar pasal127, maka seharusnya hakim memvonis Rehabilitasi, dengan memperhatikan pasal 54 dan pasal 103 Undang2 RI Nomor 35 Tahun 2009, tentang narkotika, apalagi rekomendasi dari team asesmen terpadu (TAT) menyimpulkan terdakwa menggunakan narkotika jenis ganja situasional, tidak terlibat dalam jaringan gelap, sehingga idelnya terdakwa di lepas untuk rehabilitasi mandiri atau mengirim terdakwa ke balai rehabilitasi bukan justru di penjarakan” ujar Ilyas, jumat 01 Juli 2022.

“Kenapa menarik dari ilmu hukum? karena terpidana Tidak terima selesai menjalani hukuman menyandang predikat mantan narapidana, sebab merasa dirinya tidak melakukan kejahatan, apalagi berencana ingin menikahi warga Indonesia” ujarnya.

Jadi motif pemohon adalah TDK terima dengan hukuman 1 th 10 bulan sebab hukum positif Indonesia bagi pengguna apalagi belum kecanduan seharus nya di lepas dan bisa berobat jalan.

Kenapa ahli meyakini vonis itu keliru?
“pertama hakim yakin terdakwa melanggar pasal 127, kedua ada rekomendasi asesmen cukup Jelas dan barang bukti ganja 0 koma 08 gram, ini yang bisa diklasifikasikan hakim telah nyata nyata keliru membuat pertimbangan hukum dan memvonis penjara 1 th 10 bulan sebab ideanya harus di kelas berobat mandiri atau dikirim ke balai rehabilitasi” demikian pungkas Dr Ilyas setelah berkomunikasi dengan pensehat hukum pemohon PK melalui zoom.
(ynzr)