oleh

Diduga Bawa Tuak ke Mushola, Masa Aksi Tuntut Kadus di Pengenjek Dipecat

SKI| Lombok Tengah– Ratusan warga mendatangi Kantor Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah untuk melakukan aksi terkait dengan adanya oknum kepala Dusun yang membawa tuak ke Mushola

 

Dimana, masa aksi menduga bahwa oknum kepala Dusun Montong Praje Timur dengan sengaja membawa barang haram tersebut ke Mushola untuk diberikan kepada masyarakat yang sedang mengaji

 

Koordinator Lapangan Aksi Haeri menuntut agar Kepala Desa Pengenjek melakukan pemecatan secara permanen terhadap kadus tersebut. Dimana hal yang dilakukan oleh oknum kadus tersebut sudah menyalahi aturan yang tidak pantas dilakukan oleh aparat desa

 

“Kami hanya minta kepada Kades Pengenjek untuk memecat Mahlil,” Ucapnya saat melakukan aksi pada Senin (24|5)

 

Lanjut Haeri, pihaknya menduga bahwa minuman haram tersebut sisa temannya yang mabuk yang dia persilahkan di rumahnya. Kemudian sisa tuak itu dibawa ke musala

 

Dijelaskan, dari pengakuan Mahlil, tuak tersebut tidak dibawa oleh dirinya ke musala. Akan tetapi, dia diduga telah menyuruh seorang anak untuk membawa tuak tersebut dan menyodorkannya kepada para jemaah yang sedang membaca Al-Qur’an.

 

“Ketika anak kecil itu masuk (ke musala), dia bilang kalau ini tuak dari Pak Kadus, siapa mau minum. Kita sebagai masyarakat masak mau membiarkan hal itu. Apalagi ini yang melakukan perangkat desa,” ungkapnya

 

Selain membawa tuak, Kadus tersebut juga diduga telah tersandung kasus judi jangkrik dan hampir diberhentikan sebagai Kadus atas desakan masyarakat. Namun, saat itu dia berjanji tidak akan mengulangi lagi serta menyanggupi untuk berhenti sebagai Kadus kalau melakukan kesalahan.

 

“Tapi ini sekarang Pak Kades hanya memberikan sanksi penundaan pemberian penghasilan tetap selama tiga bulan. Kalau kita ingin dia diberhentikan secara permanen,”tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Pengenjek, Haerudin mengatakan, pihaknya tidak bisa serta merta memberhentikan Kadus Mahlil seperti permintaan masyarakat. Karena dalam pemberhentian aparat desa ada aturan yang harus diikuti.

 

Selain itu, dari pemeriksaan saksi-saksi yang telah dilakukan, tidak ada yang melihat langsung Kadus tersebut membawa tuak tersebut ke musala dan meminta untuk diberikan kepada para jamaah.

 

“Dari hasil pemeriksaan saksi dan Kadus, waktu itu ceritanya temannya (kadus) mabuk di rumahnya lalu sisa tuak dia taruh di pinggir jalan dekat musala. Kadus lalu antar temannya yang mabuk pulang. Sehingga di sini terkesan Kadus yang bawa tuak,”katanya.

 

Begitu juga dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya kemudian disampaikan kepada camat Jonggat. Sehingga keluarlah rekomendasi dari camat, di antaranya adalah penundaan pemberian penghasilan tetap selama tiga bulan.

 

“Itu sanksi dari camat dan kami hanya menjalankan aturan,”katanya.

 

Selain itu, pengangkatan dan pemberhentian Kadus saat ini tidak seperti dulu lagi yang dilakukan oleh masyarakat. Adapun saat ini hal itu dilakukan oleh kepala desa atas koordinasi dengan camat.

 

“Kalau sekarang warga minta pemberhentian permanen (kadus) kita tunggu rekomendasi dari camat dulu,”tutupnya. (riki)

Komentar

News Feed